BERITA DUKA
wafat pada Rabu tanggal 2 Mei 2012 pukul 11.41 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Semoga Amal dan Ibadah Beliau diterima di sisi Allah dan di Beri Ketabahan dan kekuatan untuk keluarga yg dititinggalkan, Amin.
Terima kasih Untuk Jasa-Jasamu selama ini Ibu Menkes, Rest in Peace.
-PKVHI Pusat-
Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 02 Mei 2012 13:02 )
Pengidap HIV/AIDS di Papua 10 Ribu JiwaJika ditotal dari yang belum terdata, pengidap diperkirakan mencapai 24 ribu orang. VIVAnews - Pengidap HIV/AIDS di Provinsi Papua terus meningkat. Bahkan, peningkatannya terjadi dalam hitungan bulan. Berdasarkan data per Desember 2011, Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) tercatat sekitar 10.785 orang dari total jumlah penduduk di Provinsi Papua sebanyak 2,8 juta jiwa (data sensus 2010). Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/288065-pengidap-hiv-aids-di-papua-mencapai-10-ribu Buku AD/ART PKVHIDear Teman-teman Konselor Berikut dokumen AD/ART PKVHI yang telah di upload dan dapat di download. Silahkan unduh disini Salam
Sekretariat PKVHI Pemutakhiran Terakhir ( Minggu, 01 April 2012 16:53 ) |
TINGGI, TINGKAT KEMATIAN TERKAIT HIV/AIDS DI NTT”Perkembangan kasus HIV/AIDS di Provinsi NTT sejak 1997 hingga Februari 2012 terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Terbukti, hingga Februari lalu tercatat 1.491 kasus HIV/AIDS ditemukan di NTT dan dari jumlah tersebut 403 penderita telah meninggal dunia.” Ini lead di berita ”Ratusan Orang Meninggal di NTT Akibat HIV/AIDS”(inilah.com, 21/3-2012). Kasus kumulatif HIV/ADIS di NTT sampai Februari 2012 tercatat 1.491 yang terdiri atas 699 HIV dan 792 AIDS dengan 403 kematian. Pernyataan pada lead berita tsb. menunjukkan pemaham yang tidak komprehensif terkait dengan HIV/AIDS. Pertama, pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga angka kasus HIV/AIDS tidak akan pernah turun biar pun banyak penderita yang meninggal. Kedua, yang terjadi bukan perkembangan tapi penambahan kasus baru ke kasus lama. Ketiga, kematian pada Odha (Orang dengan HIV/AIDS) bukan karena HIV/AIDS, tapi penyakit lain yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TBC, dll. Dalam berita tidak ada penjelasan tentang penyakit penyebab kematian 403 Odha itu. Ketidakmampuan wartawan membawa data ke realitas sosial membuat data kematian terkait AIDS tidak berarti bagi masyarakat. Padahal, dengan 403 kematian dari 1.491 penderita HIV/AIDS tentulah kondisi yang sangat buruk terkait dengan pelayanan kesehatan. Tingkat kematian mencapai 27,03 persen. Kematian pada Odha terjadi di masa AIDS yaitu setelah tertular antara 5 – 15 tahun. Nah, pada rentang waktu itu sebelum meninggal 403 Odha yang meninggal itu sudah menularkan HIV kepada orang tanpa mereka sadari. Kalau 403 Odha itu mempunyai pasangan, istri atau suami, maka sudah ada 806 penduduk NTT yang mengidap HIV/AIDS. Kalua ada yang mempunyai istri lebih dari satu, maka jumlah penduduk yang berisiko tertular HIV makin besar. Jumlah penduduk yang berisiko tertular HIV akan sangat besar kalau ada pekerja seks di antara Odha yang meninggal itu. Setiap malam seorang PSK meladeni tiga laki-laki ’hidung belang’. Bisa dibayangkan jumlah laki-laki yang sanggama tanpa kondom dengan pekerja seks pada rentang waktu sejak tertular sampai meninggal. Realitas inilah yang tidak muncul dalam banyak berita HIV/AIDS sehingga masyarakat tidak merasa berkepentingan terhadap kasus kematian Odha. Menurut Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT, Ir Esthon Foenay, M.Si, mengatakan: ” …. akar permasalahan sesungguhnya dari masalah ini sebenarnya karena Pemerintah kurang aktif turun ke masyarakat untuk menjelaskan tentang bahayanya virus HIV/AIDS ini jika telah menyerang tubuh.” Akar dari akar permasalahan yang disampaikan Esthon, al. justru datang dari pemerintah. Materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) HIV/AIDS selama ini tidak akurat karena dibumbui dengan moral sehingga fakta (medis) HIV/AIDS hilang. Masyarakat hanya menangkap mitos (anggapan yang salah), misalnya, pengaitan penularan HIV dengan moral dan agama. Tidak ada kaitan langsung antara moral dan agama dengan penularan HIV. Sekretaris KPA Provinsi NTT, dr. Husein Pancratius, mengatakan: ” …. VCT merupakan pintu masuk bagi KPA NTT untuk bertindak dalam menangani kasus HIV/AIDS.” Sayangnya, langkah KPA itu dilakukan di hilir. Artinya, menunggu penduduk tertular HIV baru tes di klinik VCT. Ini sama sekali tidak besar manfaatnya dalam menanggulangi HIV/AIDS karena pada saat yang sama insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki melalui hubungan seksual tanpa kondom, dengan pekerja seks terus terjadi (hulu). Memang, sama seperti daerah lain tidak ada langkah-langkah konkret untuk mencegah penularan HIV di hulu. Lihat saja di Perda AIDS NTT (Lihat:http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/05/pencegahan-normatif-dalam-perda-aids-ntt/). Dengan tingkat penyebaran yang tinggi, maka yang diperlukan adalah langkah yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV pada laki-laki ’hidung belang’. Jika program penanggulangan tidak dilakukan di hulu, maka jumlah insiden infeksi HIV baru pun akan terus terjadi. Pada gilirannya jumlah kasus terus bertambah dan pada suatu saat akan meledak sebagai ’ledakan AIDS’. ***[Syaiful W. Harahap]*** Sumber: http://regional.kompasiana.com/2012/03/21/tinggi-tingkat-kematian-terkait-hivaids-di-ntt/ Deteksi Penderita HIV/AIDS, Dinkes Sediakan 143 Alat TesWANGIWANGI - Guna mempercepat penanganan penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, pihak Dinas Kesehatan setempat mendatangkan 143 alat pendeteksi virus mematikan tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Wakatobi, La Ode Boa menjelaskan, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah preventif selama ini, dengan melakukan sosialisasi di sejumlah tempat seperti Puskesmas. Selain itu juga Dinkes mendatangkan 143 alat pendeteksi pasien yang terjangkit virus HIV/AIDS. "Kami telah melakukan penyuluhan dan sosialisasi mengenai apa itu HIV/AIDS, cara penularan, pencegahannya, bahaya HIV dan bagaimana cara memperlakukan penderita AIDS," terangnya. Petugas Puskesmas lanjutnya, sudah melakukan penyuluhan di desa-desa dan rencananya, awal Februari, penyuluhan HIV/AIDS akan kembali digalakkan di setiap kecamatan yang ada di Wakatobi. Terkait pencegahan HIV/AIDS agar tidak meluas, pihaknya sudah mempunyai 143 alat tes HIV/AIDS. "Alat itu, Insya Allah bisa mengetes darah siapa saja, saat ini sudah 5 orang penderita AIDS dan itu bisa saja meningkat. Makanya diharapkan kepada semua pihak agar memerangi potensi munculnya HIV AIDS itu," tegasnya. Sementara, anggota DPRD Wakatobi, Subardin Bau menyayangkan tidak sigapnya, pihak Dinkes Wakatobi dalam mendeteksi penyebaran virus HIV di Wakatobi. "Daerah kecil seperti Wakatobi masih jebol dengan AIDS. Ini ada yang tidak beres, perlu perhatian serius dari semua pihak yakni pemerintah dan stakholder untuk pencegahannya," katanya. Tindakan nyata yang mesti dilakukan saat ini lanjutnya, melakukan razia di tempat-tempat yang berpotensi adanya penularan virus HIV itu, kemudian pihak kesehatan melakukan tes ditempat, agar diketahui penderita, sehingga dapat dilakukan penanganan kesehatan lebih lanjut, agar tidak membahayakan warga yang tidak terinfeksi. (cr1) Sumber: www.jpnn.com
|
<< Mulai < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
Halaman 1 dari 19